12/01/2010

TATA SURYA

Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut

Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk

delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet

kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor,

asteroid, komet) lainnya.

Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet

bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort

diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian

yang terluar.

Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta

km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km),

Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak

pertengahan 2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit

planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil

tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai

planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan),

Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).

Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit

alami, yang biasa disebut dengan "bulan" sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi.

Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan

partikel lain.

Asal usul

Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :

Hipotesis Nebula

Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734 dan

disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga

dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis

ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap

awal, Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang

disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya

menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan

akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar

semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya

gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet

dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari

planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.

Hipotesis Planetisimal

Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R.

Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk

akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa awal

pembentukan matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan terjadinya tonjolan pada permukaan

matahari, dan bersama proses internal matahari, menarik materi berulang kali dari matahari.

Efek gravitasi bintang mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari

matahari. Sementara sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain akan tetap di

orbit, mendingin dan memadat, dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang mereka sebut

planetisimal dan beberapa yang besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan

dari waktu ke waktu dan membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya

menjadi komet dan asteroid.

Hipotesis Pasang Surut Bintang

Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917.

Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari. Keadaan yang

hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang

lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudian terkondensasi menjadi

planet. Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929 membantah bahwa tabrakan yang sedemikian

itu hampir tidak mungkin terjadi. Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan

keberatannya atas hipotesis tersebut.

Hipotesis Kondensasi

Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper

(1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk

dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.

Hipotesis Bintang Kembar

Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956.

Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama

ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.

Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai

mengelilinginya.

Sejarah penemuan

Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus)

telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang.

Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia

untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei

(1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam

mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.

Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan

bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan

posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori

heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang sebelumnya

digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543). Susunan heliosentris adalah Matahari

dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.

Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695)

yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.

Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda

langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum

Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori

perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit

selanjutnya

Pada 1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus

menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846.

Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian

ditemukan pada 1930.

Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada

setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan,

sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh

dengan Pluto.

Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lainnya yang letaknya melampaui

Neptunus (disebut objek trans-Neptunus), yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin

ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper

adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Objek

Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000),

Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500

km pada Mei 2004).

Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki

satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah

penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain

lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit.

Struktur

Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari, sebuah bintang deret utama kelas G2 yang

mengandung 99,86 persen massa dari sistem dan mendominasi seluruh dengan gaya gravitasinya.

Yupiter dan Saturnus, dua komponen terbesar yang mengedari matahari, mencakup kira-kira 90

persen massa selebihnya.

Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit matahari terletak pada bidang edaran bumi,

yang umumnya dinamai ekliptika. Semua planet terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara

komet dan objek-objek sabuk Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar

dibandingkan ekliptika.

Planet-planet dan objek-objek Tata Surya juga mengorbit mengelilingi matahari berlawanan

dengan arah jarum jam jika dilihat dari atas kutub utara matahari, terkecuali Komet Halley.

Hukum Gerakan Planet Kepler menjabarkan bahwa orbit dari objek-objek Tata Surya sekeliling

matahari bergerak mengikuti bentuk elips dengan matahari sebagai salah satu titik fokusnya.

Objek yang berjarak lebih dekat dari matahari (sumbu semi-mayor-nya lebih kecil) memiliki

tahun waktu yang lebih pendek. Pada orbit elips, jarak antara objek dengan matahari

bervariasi sepanjang tahun. Jarak terdekat antara objek dengan matahari dinamai perihelion,

sedangkan jarak terjauh dari matahari dinamai aphelion. Semua objek Tata Surya bergerak

tercepat di titik perihelion dan terlambat di titik aphelion. Orbit planet-planet bisa

dibilang hampir berbentuk lingkaran, sedangkan komet, asteroid dan objek sabuk Kuiper

kebanyakan orbitnya berbentuk elips.

Untuk mempermudah representasi, kebanyakan diagram Tata Surya menunjukan jarak antara orbit

yang sama antara satu dengan lainnya. Pada kenyataannya, dengan beberapa perkecualian,

semakin jauh letak sebuah planet atau sabuk dari matahari, semakin besar jarak antara objek

itu dengan jalur edaran orbit sebelumnya. Sebagai contoh, Venus terletak sekitar sekitar

0,33 satuan astronomi (SA) lebih dari Merkurius, sedangkan Saturnus adalah 4,3 SA dari

Yupiter, dan Neptunus terletak 10,5 SA dari Uranus. Beberapa upaya telah dicoba untuk

menentukan korelasi jarak antar orbit ini (hukum Titus-Bode), tetapi sejauh ini tidak satu

teori pun telah diterima.

Hampir semua planet-planet di Tata Surya juga memiliki sistem sekunder. Kebanyakan adalah

benda pengorbit alami yang disebut satelit, atau bulan. Beberapa benda ini memiliki ukuran

lebih besar dari planet. Hampir semua satelit alami yang paling besar terletak di orbit

sinkron, dengan satu sisi satelit berpaling ke arah planet induknya secara permanen. Empat

planet terbesar juga memliki cincin yang berisi partikel-partikel kecil yang mengorbit

secara serempak.

Terminologi

Secara informal, Tata Surya dapat dibagi menjadi tiga daerah. Tata Surya bagian dalam

mencakup empat planet kebumian dan sabuk asteroid utama. Pada daerah yang lebih jauh, Tata

Surya bagian luar, terdapat empat gas planet raksasa. Sejak ditemukannya Sabuk Kuiper,

bagian terluar Tata Surya dianggap wilayah berbeda tersendiri yang meliputi semua objek

melampaui Neptunus.

Secara dinamis dan fisik, objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga

golongan: planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya. Planet adalah sebuah badan yang

mengedari matahari dan mempunyai massa cukup besar untuk membentuk bulatan diri dan telah

membersihkan orbitnya dengan menginkorporasikan semua objek-objek kecil di sekitarnya.

Dengan definisi ini, Tata Surya memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars,

Yupiter, Saturnus, dan Neptunus. Pluto telah dilepaskan status planetnya karena tidak dapat

membersihkan orbitnya dari objek-objek Sabuk Kuiper. Planet kerdil adalah benda angkasa

bukan satelit yang mengelilingi matahari, mempunyai massa yang cukup untuk bisa membentuk

bulatan diri tetapi belum dapat membersihkan daerah sekitarnya. Menurut definisi ini, Tata

Surya memiliki lima buah planet kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Objek lain

yang mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil adalah: Sedna, Orcus, dan Quaoar.

Planet kerdil yang memiliki orbit di daerah trans-Neptunus biasanya disebut "plutoid". Sisa

objek-objek lain berikutnya yang mengitari matahari adalah benda kecil Tata Surya.

Ilmuwan ahli planet menggunakan istilah gas, es, dan batu untuk mendeskripsi kelas zat yang

terdapat di dalam Tata Surya. Batu digunakan untuk menamai bahan bertitik lebur tinggi

(lebih besar dari 500 K), sebagai contoh silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat di

Tata Surya bagian dalam, merupakan komponen pembentuk utama hampir semua planet kebumian dan

asteroid. Gas adalah bahan-bahan bertitik lebur rendah seperti atom hidrogen, helium, dan

gas mulia, bahan-bahan ini mendominasi wilayah tengah Tata Surya, yang didominasi oleh

Yupiter dan Saturnus. Sedangkan es, seperti air, metana, amonia dan karbon dioksida,

memiliki titik lebur sekitar ratusan derajat kelvin. Bahan ini merupakan komponen utama dari

sebagian besar satelit planet raksasa. Ia juga merupakan komponen utama Uranus dan Neptunus

(yang sering disebut "es raksasa"), serta berbagai benda kecil yang terletak di dekat orbit

Neptunus.

Istilah volatiles mencakup semua bahan bertitik didih rendah (kurang dari ratusan kelvin),

yang termasuk gas dan es; tergantung pada suhunya, 'volatiles' dapat ditemukan sebagai es,

cairan, atau gas di berbagai bagian Tata Surya.

Zona planet

Di zona planet dalam, Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya paling dekat dengan

planet Merkurius (jarak dari matahari 57,9 × 106 km, atau 0,39 SA), Venus (108,2 × 106 km,

0,72 SA), Bumi (149,6 × 106 km, 1 SA) dan Mars (227,9 × 106 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya

antara 4.878 km dan 12.756 km, dengan massa jenis antara 3,95 g/cm3 dan 5,52 g/cm3.

Antara Mars dan Yupiter terdapat daerah yang disebut sabuk asteroid, kumpulan batuan metal

dan mineral. Kebanyakan asteroid-asteroid ini hanya berdiameter beberapa kilometer (lihat:

Daftar asteroid), dan beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih. Ceres, bagian dari

kumpulan asteroid ini, berukuran sekitar 960 km dan dikategorikan sebagai planet kerdil.

Orbit asteroid-asteroid ini sangat eliptis, bahkan beberapa menyimpangi Merkurius (Icarus)

dan Uranus (Chiron).

Pada zona planet luar, terdapat planet gas raksasa Yupiter (778,3 × 106 km, 5,2 SA), Uranus

(2,875 × 109 km, 19,2 SA) dan Neptunus (4,504 × 109 km, 30,1 SA) dengan massa jenis antara

0,7 g/cm3 dan 1,66 g/cm3.

Jarak rata-rata antara planet-planet dengan matahari bisa diperkirakan dengan menggunakan

baris matematis Titus-Bode. Regularitas jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini

kemungkinan merupakan efek resonansi sisa dari awal terbentuknya Tata Surya. Anehnya, planet

Neptunus tidak muncul di baris matematis Titus-Bode, yang membuat para pengamat berspekulasi

bahwa Neptunus merupakan hasil tabrakan kosmis

Matahari

Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama sistem Tata Surya ini.

Bintang ini berukuran 332.830 massa bumi. Massa yang besar ini menyebabkan kepadatan inti

yang cukup besar untuk bisa mendukung kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah

energi yang dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi

eletromagnetik, termasuk spektrum optik.

Matahari dikategorikan ke dalam bintang kerdil kuning (tipe G V) yang berukuran tengahan,

tetapi nama ini bisa menyebabkan kesalahpahaman, karena dibandingkan dengan bintang-bintang

yang ada di dalam galaksi Bima Sakti, matahari termasuk cukup besar dan cemerlang. Bintang

diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell, yaitu sebuah grafik yang menggambarkan

hubungan nilai luminositas sebuah bintang terhadap suhu permukaannya. Secara umum, bintang

yang lebih panas akan lebih cemerlang. Bintang-bintang yang mengikuti pola ini dikatakan

terletak pada deret utama, dan matahari letaknya persis di tengah deret ini. Akan tetapi,

bintang-bintang yang lebih cemerlang dan lebih panas dari matahari adalah langka, sedangkan

bintang-bintang yang lebih redup dan dingin adalah umum.

Dipercayai bahwa posisi matahari pada deret utama secara umum merupakan "puncak hidup" dari

sebuah bintang, karena belum habisnya hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir. Saat ini

Matahari tumbuh semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat kecemerlangannya adalah

sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang.

Matahari secara metalisitas dikategorikan sebagai bintang "populasi I". Bintang kategori ini

terbentuk lebih akhir pada tingkat evolusi alam semesta, sehingga mengandung lebih banyak

unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium ("metal" dalam sebutan astronomi)

dibandingkan dengan bintang "populasi II". Unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen

dan helium terbentuk di dalam inti bintang purba yang kemudian meledak. Bintang-bintang

generasi pertama perlu punah terlebih dahulu sebelum alam semesta dapat dipenuhi oleh

unsur-unsur yang lebih berat ini. Bintang-bintang tertua mengandung sangat sedikit metal,

sedangkan bintang baru mempunyai kandungan metal yang lebih tinggi. Tingkat metalitas yang

tinggi ini diperkirakan mempunyai pengaruh penting pada pembentukan sistem Tata Surya,

karena terbentuknya planet adalah hasil penggumpalan metal.

Medium antarplanet

Disamping cahaya, matahari juga secara berkesinambungan memancarkan semburan partikel

bermuatan (plasma) yang dikenal sebagai angin matahari. Semburan partikel ini menyebar

keluar kira-kira pada kecepatan 1,5 juta kilometer per jam, menciptakan atmosfer tipis

(heliosfer) yang merambah Tata Surya paling tidak sejauh 100 SA (lihat juga heliopause).

Kesemuanya ini disebut medium antarplanet. Badai geomagnetis pada permukaan matahari,

seperti semburan matahari (solar flares) dan pengeluaran massa korona (coronal mass

ejection) menyebabkan gangguan pada heliosfer, menciptakan cuaca ruang angkasa. Struktur

terbesar dari heliosfer dinamai lembar aliran heliosfer (heliospheric current sheet), sebuah

spiral yang terjadi karena gerak rotasi magnetis matahari terhadap medium antarplanet. Medan

magnet bumi mencegah atmosfer bumi berinteraksi dengan angin matahari. Venus dan Mars yang

tidak memiliki medan magnet, atmosfernya habis terkikis ke luar angkasa. Interaksi antara

angin matahari dan medan magnet bumi menyebabkan terjadinya aurora, yang dapat dilihat dekat

kutub magnetik bumi.

Heliosfer juga berperan melindungi Tata Surya dari sinar kosmik yang berasal dari luar Tata

Surya. Medan magnet planet-planet menambah peran perlindungan selanjutnya. Densitas sinar

kosmik pada medium antarbintang dan kekuatan medan magnet matahari mengalami perubahan pada

skala waktu yang sangat panjang, sehingga derajat radiasi kosmis di dalam Tata Surya sendiri

adalah bervariasi, meski tidak diketahui seberapa besar.

Medium antarplanet juga merupakan tempat beradanya paling tidak dua daerah mirip piringan

yang berisi debu kosmis. Yang pertama, awan debu zodiak, terletak di Tata Surya bagian dalam

dan merupakan penyebab cahaya zodiak. Ini kemungkinan terbentuk dari tabrakan dalam sabuk

asteroid yang disebabkan oleh interaksi dengan planet-planet. Daerah kedua membentang antara

10 SA sampai sekitar 40 SA, dan mungkin disebabkan oleh tabrakan yang mirip tetapi tejadi di

dalam Sabuk Kuiper.

Tata Surya bagian dalam

Tata Surya bagian dalam adalah nama umum yang mencakup planet kebumian dan asteroid.

Terutama terbuat dari silikat dan logam, objek dari Tata Surya bagian dalam melingkup dekat

dengan matahari, radius dari seluruh daerah ini lebih pendek dari jarak antara Yupiter dan

Saturnus.

Planet-planet bagian dalam

Empat planet bagian dalam atau planet kebumian (terrestrial planet) memiliki komposisi

batuan yang padat, hampir tidak mempunyai atau tidak mempunyai bulan dan tidak mempunyai

sistem cincin. Komposisi Planet-planet ini terutama adalah mineral bertitik leleh tinggi,

seperti silikat yang membentuk kerak dan selubung, dan logam seperti besi dan nikel yang

membentuk intinya. Tiga dari empat planet ini (Venus, Bumi dan Mars) memiliki atmosfer,

semuanya memiliki kawah meteor dan sifat-sifat permukaan tektonis seperti gunung berapi dan

lembah pecahan. Planet yang letaknya di antara matahari dan bumi (Merkurius dan Venus)

disebut juga planet inferior.

Merkurius

Merkurius (0,4 SA) adalah planet terdekat dari matahari serta juga terkecil (0,055 massa

bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping kawah meteorid

yang diketahui adalah lobed ridges atau rupes, kemungkinan terjadi karena pengerutan pada

perioda awal sejarahnya. Atmosfer Merkurius yang hampir bisa diabaikan terdiri dari

atom-atom yang terlepas dari permukaannya karena semburan angin matahari. Besarnya inti besi

dan tipisnya kerak Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesa

lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa, dan perkembangan

("akresi") penuhnya terhambat oleh energi awal matahari

Venus

Venus (0,7 SA) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi). Dan seperti bumi, planet ini

memiliki selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan

memiliki aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya

sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet

terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar disebabkan jumlah gas

rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer. Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum

dideteksi, tetapi karena planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya

atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.

Bumi


Bumi adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat, satu-satunya yang diketahui

memiliki aktivitas geologi dan satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup.

Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga merupakan

satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda

dibandingkan planet-planet lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang

menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit, bulan, satu-satunya satelit besar dari

planet kebumian di dalam Tata Surya.

Mars

Mars (1,5 SA) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi). Planet ini

memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang

dipenuhi gunung berapi raksasa seperti Olympus Mons dan lembah retakan seperti Valles

marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru belakangan ini.

Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang kaya besi. Mars mempunyai dua satelit

alami kecil (Deimos dan Phobos) yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.

Sabuk asteroid

Asteroid secara umum adalah obyek Tata Surya yang terdiri dari batuan dan mineral logam

beku.

Sabuk asteroid utama terletak di antara orbit Mars dan Yupiter, berjarak antara 2,3 dan 3,3

SA dari matahari, diduga merupakan sisa dari bahan formasi Tata Surya yang gagal menggumpal

karena pengaruh gravitasi Yupiter.

Gradasi ukuran asteroid adalah ratusan kilometer sampai mikroskopis. Semua asteroid, kecuali

Ceres yang terbesar, diklasifikasikan sebagai benda kecil Tata Surya. Beberapa asteroid

seperti Vesta dan Hygiea mungkin akan diklasifikasi sebagai planet kerdil jika terbukti

telah mencapai kesetimbangan hidrostatik.

Sabuk asteroid terdiri dari beribu-ribu, mungkin jutaan objek yang berdiameter satu

kilometer. Meskipun demikian, massa total dari sabuk utama ini tidaklah lebih dari

seperseribu massa bumi. Sabuk utama tidaklah rapat, kapal ruang angkasa secara rutin

menerobos daerah ini tanpa mengalami kecelakaan. Asteroid yang berdiameter antara 10 dan

10-4 m disebut meteorid.

Ceres


Ceres (2,77 SA) adalah benda terbesar di sabuk asteroid dan diklasifikasikan sebagai planet

kerdil. Diameternya adalah sedikit kurang dari 1000 km, cukup besar untuk memiliki gravitasi

sendiri untuk menggumpal membentuk bundaran. Ceres dianggap sebagai planet ketika ditemukan

pada abad ke 19, tetapi di-reklasifikasi menjadi asteroid pada tahun 1850an setelah

observasi lebih lanjut menemukan beberapa asteroid lagi. Ceres direklasifikasi lanjut pada

tahun 2006 sebagai planet kerdil.

Kelompok asteroid

Asteroid pada sabuk utama dibagi menjadi kelompok dan keluarga asteroid bedasarkan

sifat-sifat orbitnya. Bulan asteroid adalah asteroid yang mengedari asteroid yang lebih

besar. Mereka tidak mudah dibedakan dari bulan-bulan planet, kadang kala hampir sebesar

pasangannya. Sabuk asteroid juga memiliki komet sabuk utama yang mungkin merupakan sumber

air bumi.

Asteroid-asteroid Trojan terletak di titik L4 atau L5 Yupiter (daerah gravitasi stabil yang

berada di depan dan belakang sebuah orbit planet), sebutan "trojan" sering digunakan untuk

objek-objek kecil pada Titik Langrange dari sebuah planet atau satelit. Kelompok Asteroid

Hilda terletak di orbit resonansi 2:3 dari Yupiter, yang artinya kelompok ini mengedari

matahari tiga kali untuk setiak dua edaran Yupiter.

Bagian dalam Tata Surya juga dipenuhi oleh asteroid liar, yang banyak memotong orbit-orbit

planet planet bagian dalam.

Tata Surya bagian luar

Pada bagian luar dari Tata Surya terdapat gas-gas raksasa dengan satelit-satelitnya yang

berukuran planet. Banyak komet berperioda pendek termasuk beberapa Centaur, juga berorbit di

daerah ini. Badan-badan padat di daerah ini mengandung jumlah volatil (contoh: air, amonia,

metan, yang sering disebut "es" dalam peristilahan ilmu keplanetan) yang lebih tinggi

dibandingkan planet batuan di bagian dalam Tata Surya.

Planet-planet luar

Keempat planet luar, yang disebut juga planet raksasa gas (gas giant), atau planet jovian,

secara keseluruhan mencakup 99 persen massa yang mengorbit matahari. Yupiter dan Saturnus

sebagian besar mengandung hidrogen dan helium; Uranus dan Neptunus memiliki proporsi es yang

lebih besar. Para astronom mengusulkan bahwa keduanya dikategorikan sendiri sebagai raksasa

es. Keempat raksasa gas ini semuanya memiliki cincin, meski hanya sistem cincin Saturnus

yang dapat dilihat dengan mudah dari bumi.


Yupiter

Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi, adalah 2,5 kali massa dari gabungan seluruh

planet lainnya. Kandungan utamanya adalah hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter

menyebabkan timbulnya beberapa ciri semi-permanen pada atmosfernya, sebagai contoh pita pita

awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63 satelit. Empat yang

terbesar, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa menampakan kemiripan dengan planet kebumian,

seperti gunung berapi dan inti yang panas. Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata

Surya, berukuran lebih besar dari Merkurius.

Saturnus

Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya, memiliki beberapa kesamaan dengan

Yupiter, sebagai contoh komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar 60% volume

Yupiter, planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga Yupiter atau 95 kali massa bumi,

membuat planet ini sebuah planet yang paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60

satelit yang diketahui sejauh ini (dan 3 yang belum dipastikan) dua di antaranya Titan dan

Enceladus, menunjukan activitas geologis, meski hampir terdiri hanya dari es saja. Titan

berukuran lebih besar dari Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang

memiliki atmosfer yang cukup berarti.

Uranus

Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi, adalah planet yang paling ringan di

antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit. Uranus mengedari

matahari dengan bujkuran poros 90 derajad pada ekliptika. Planet ini memiliki inti yang

sangat dingin dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi panas.

Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui, yang terbesar adalah Titania, Oberon, Umbriel,

Ariel dan Miranda.

Neptunus

Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus, memiliki 17 kali massa bumi,

sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini memancarkan panas dari dalam tetapi tidak

sebanyak Yupiter atau Saturnus. Neptunus memiliki 13 satelit yang diketahui. Yang terbesar,

Triton, geologinya aktif, dan memiliki geyser nitrogen cair. Triton adalah satu-satunya

satelit besar yang orbitnya terbalik arah (retrogade). Neptunus juga didampingi beberapa

planet minor pada orbitnya, yang disebut Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki resonansi

1:1 dengan Neptunus.


Komet

Komet adalah badan Tata Surya kecil, biasanya hanya berukuran beberapa kilometer, dan

terbuat dari es volatil. Badan-badan ini memiliki eksentrisitas orbit tinggi, secara umum

perihelion-nya terletak di planet-planet bagian dalam dan letak aphelion-nya lebih jauh dari

Pluto. Saat sebuah komet memasuki Tata Surya bagian dalam, dekatnya jarak dari matahari

menyebabkan permukaan esnya bersumblimasi dan berionisasi, yang menghasilkan koma, ekor gas

dan debu panjang, yang sering dapat dilihat dengan mata telanjang.

Komet berperioda pendek memiliki kelangsungan orbit kurang dari dua ratus tahun. Sedangkan

komet berperioda panjang memiliki orbit yang berlangsung ribuan tahun. Komet berperioda

pendek dipercaya berasal dari Sabuk Kuiper, sedangkan komet berperioda panjang, seperti

Hale-bopp, berasal dari Awan Oort. Banyak kelompok komet, seperti Kreutz Sungrazers,

terbentuk dari pecahan sebuah induk tunggal. Sebagian komet berorbit hiperbolik mungking

berasal dari luar Tata Surya, tetapi menentukan jalur orbitnya secara pasti sangatlah sulit.

Komet tua yang bahan volatilesnya telah habis karena panas matahari sering dikategorikan

sebagai asteroid.


Centaur

Centaur adalah benda-benda es mirip komet yang poros semi-majornya lebih besar dari Yupiter

(5,5 SA) dan lebih kecil dari Neptunus (30 SA). Centaur terbesar yang diketahui adalah,

10199 Chariklo, berdiameter 250 km. Centaur temuan pertama, 2060 Chiron, juga

diklasifikasikan sebagai komet (95P) karena memiliki koma sama seperti komet kalau mendekati

matahari. Beberapa astronom mengklasifikasikan Centaurs sebagai objek sabuk Kuiper

sebaran-ke-dalam (inward-scattered Kuiper belt objects), seiring dengan sebaran keluar yang

bertempat di piringan tersebar (outward-scattered residents of the scattered disc).

Daerah trans-Neptunus

Daerah yang terletak jauh melampaui Neptunus, atau daerah trans-Neptunus, sebagian besar

belum dieksplorasi. Menurut dugaan daerah ini sebagian besar terdiri dari dunia-dunia kecil

(yang terbesar memiliki diameter seperlima bumi dan bermassa jauh lebih kecil dari bulan)

dan terutama mengandung batu dan es. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah luar Tata Surya,

meskipun berbagai orang menggunakan istilah ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk

asteroid.

Sabuk Kuiper

Sabuk Kuiper adalah sebuah cincin raksasa mirip dengan sabuk asteroid, tetapi komposisi

utamanya adalah es. Sabuk ini terletak antara 30 dan 50 SA, dan terdiri dari benda kecil

Tata Surya. Meski demikian, beberapa objek Kuiper yang terbesar, seperti Quaoar, Varuna, dan

Orcus, mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Para ilmuwan memperkirakan

terdapat sekitar 100.000 objek Sabuk Kuiper yang berdiameter lebih dari 50 km, tetapi

diperkirakan massa total Sabuk Kuiper hanya sepersepuluh massa bumi. Banyak objek Kuiper

memiliki satelit ganda dan kebanyakan memiliki orbit di luar bidang eliptika.

Sabuk Kuiper secara kasar bisa dibagi menjadi "sabuk klasik" dan resonansi. Resonansi adalah

orbit yang terkait pada Neptunus (contoh: dua orbit untuk setiap tiga orbit Neptunus atau

satu untuk setiap dua). Resonansi yang pertama bermula pada Neptunus sendiri. Sabuk klasik

terdiri dari objek yang tidak memiliki resonansi dengan Neptunus, dan terletak sekitar 39,4

SA sampai 47,7 SA. Anggota dari sabuk klasik diklasifikasikan sebagai cubewanos, setelah

anggota jenis pertamanya ditemukan (15760) 1992QB1

Pluto dan Charon

Pluto (rata-rata 39 SA), sebuah planet kerdil, adalah objek terbesar sejauh ini di Sabuk

Kuiper. Ketika ditemukan pada tahun 1930, benda ini dianggap sebagai planet yang kesembilan,

definisi ini diganti pada tahun 2006 dengan diangkatnya definisi formal planet. Pluto

memiliki kemiringan orbit cukup eksentrik (17 derajat dari bidang ekliptika) dan berjarak

29,7 SA dari matahari pada titik prihelion (sejarak orbit Neptunus) sampai 49,5 SA pada

titik aphelion.

Tidak jelas apakah Charon, bulan Pluto yang terbesar, akan terus diklasifikasikan sebagai

satelit atau menjadi sebuah planet kerdil juga. Pluto dan Charon, keduanya mengedari titik

barycenter gravitasi di atas permukaannya, yang membuat Pluto-Charon sebuah sistem ganda.

Dua bulan yang jauh lebih kecil Nix dan Hydra juga mengedari Pluto dan Charon. Pluto

terletak pada sabuk resonan dan memiliki 3:2 resonansi dengan Neptunus, yang berarti Pluto

mengedari matahari dua kali untuk setiap tiga edaran Neptunus. Objek sabuk Kuiper yang

orbitnya memiliki resonansi yang sama disebut plutino

Haumea dan Makemake

Haumea (rata-rata 43,34 SA) dan Makemake (rata-rata 45,79 SA) adalah dua objek terbesar

sejauh ini di dalam sabuk Kuiper klasik. Haumea adalah sebuah objek berbentuk telur dan

memiliki dua bulan. Makemake adalah objek paling cemerlang di sabuk Kuiper setelah Pluto.

Pada awalnya dinamai 2003 EL61 dan 2005 FY9, pada tahun 2008 diberi nama dan status sebagai

planet kerdil. Orbit keduanya berinklinasi jauh lebih membujur dari Pluto (28° dan 29°) dan

lain seperti Pluto, keduanya tidak dipengaruhi oleh Neptunus, sebagai bagian dari kelompok

Objek Sabuk Kuiper klasik.

Piringan tersebar

Piringan tersebar (scattered disc) berpotongan dengan sabuk Kuiper dan menyebar keluar jauh

lebih luas. Daerah ini diduga merupakan sumber komet berperioda pendek. Objek piringan

tersebar diduga terlempar ke orbit yang tidak menentu karena pengaruh gravitasi dari gerakan

migrasi awal Neptunus. Kebanyakan objek piringan tersebar (scattered disc objects, atau SDO)

memiliki perihelion di dalam sabuk Kuiper dan apehelion hampir sejauh 150 SA dari matahari.

Orbit OPT juga memiliki inklinasi tinggi pada bidang ekliptika dan sering hampir bersudut

siku-siku. Beberapa astronom menggolongkan piringan tersebar hanya sebagai bagian dari sabuk

Kuiper dan menjuluki piringan tersebar sebagai "objek sabuk Kuiper tersebar" (scattered

Kuiper belt objects)

Eris

Eris (rata-rata 68 SA) adalah objek piringan tersebar terbesar sejauh ini dan menyebabkan

mulainya debat tentang definisi planet, karena Eris hanya 5%lebih besar dari Pluto dan

memiliki perkiraan diameter sekitar 2.400 km. Eris adalah planet kerdil terbesar yang

diketahui dan memiliki satu bulan Dysnomia. Seperti Pluto, orbitnya memiliki eksentrisitas

tinggi, dengan titik perihelion 38,2 SA (mirip jarak Pluto ke matahari) dan titik aphelion

97,6 SA dengan bidang ekliptika sangat membujur.

Daerah terjauh

Titik tempat Tata Surya berakhir dan ruang antar bintang mulai tidaklah persis terdefinisi.

Batasan-batasan luar ini terbentuk dari dua gaya tekan yang terpisah: angin matahari dan

gravitasi matahari. Batasan terjauh pengaruh angin matahari kira kira berjarak empat kali

jarak Pluto dan matahari. Heliopause ini disebut sebagai titik permulaan medium antar

bintang. Akan tetapi Bola Roche Matahari, jarak efektif pengaruh gravitasi matahari,

diperkirakan mencakup sekitar seribu kali lebih jauh.

Heliopause

Heliopause dibagi menjadi dua bagian terpisah. Awan angin yang bergerak pada kecepatan 400

km/detik sampai menabrak plasma dari medium ruang antarbintang. Tabrakan ini terjadi pada

benturan terminasi yang kira kira terletak di 80-100 SA dari matahari pada daerah lawan

angin dan sekitar 200 SA dari matahari pada daerah searah jurusan angin. Kemudian angin

melambat dramatis, memampat dan berubah menjadi kencang, membentuk struktur oval yang

dikenal sebagai heliosheath, dengan kelakuan mirip seperki ekor komet, mengulur keluar

sejauh 40 SA di bagian arah lawan angin dan berkali-kali lipat lebih jauh pada sebelah

lainnya. Voyager 1 dan Voyager 2 dilaporkan telah menembus benturan terminasi ini dan

memasuki heliosheath, pada jarak 94 dan 84 SA dari matahari. Batasan luar dari heliosfer,

heliopause, adalah titik tempat angin matahari berhenti dan ruang antar bintang bermula.

Bentuk dari ujung luar heliosfer kemungkinan dipengaruhi dari dinamika fluida dari interaksi

medium antar bintang dan juga medan magnet matahari yang mengarah di sebelah selatan

(sehingga memberi bentuk tumpul pada hemisfer utara dengan jarak 9 SA, dan lebih jauh

daripada hemisfer selatan. Selebih dari heliopause, pada jarak sekitar 230 SA, terdapat

benturan busur, jaluran ombak plasma yang ditinggalkan matahari seiring edarannya

berkeliling di Bima Sakti.

Sejauh ini belum ada kapal luar angkasa yang melewati heliopause, sehingga tidaklah mungkin

mengetahui kondisi ruang antar bintang lokal dengan pasti. Diharapkan satelit NASA voyager

akan menembus heliopause pada sekitar dekade yang akan datang dan mengirim kembali data

tingkat radiasi dan angin matahari. Dalam pada itu, sebuah tim yang dibiayai NASA telah

mengembangkan konsep "Vision Mission" yang akan khusus mengirimkan satelit penjajak ke

heliosfer.

Awan Oort

Secara hipotesa, Awan Oort adalah sebuah massa berukuran raksasa yang terdiri dari

bertrilyun-trilyun objek es, dipercaya merupakan sumber komet berperioda panjang. Awan ini

menyelubungi matahari pada jarak sekitar 50.000 SA (sekitar 1 tahun cahaya) sampai sejauh

100.000 SA (1,87 tahun cahaya). Daerah ini dipercaya mengandung komet yang terlempar dari

bagian dalam Tata Surya karena interaksi dengan planet-planet bagian luar. Objek Awan Oort

bergerak sangat lambat dan bisa digoncangkan oleh situasi-situasi langka seperti tabrakan,

effek gravitasi dari laluan bintang, atau gaya pasang galaksi, gaya pasang yang didorong

Bima Sakti.

Sedna

90377 Sedna (rata-rata 525,86 SA) adalah sebuah benda kemerahan mirip Pluto dengan orbit

raksasa yang sangat eliptis, sekitar 76 SA pada perihelion dan 928 SA pada aphelion dan

berjangka orbit 12.050 tahun. Mike Brown, penemu objek ini pada tahun 2003, menegaskan bahwa

Sedna tidak merupakan bagian dari piringan tersebar ataupun sabuk Kuiper karena

perihelionnya terlalu jauh dari pengaruh migrasi Neptunus. Dia dan beberapa astronom lainnya

berpendapat bahwa Sedna adalah objek pertama dari sebuah kelompok baru, yang mungkin juga

mencakup 2000 CR105. Sebuah benda bertitik perihelion pada 45 SA, aphelion pada 415 SA, dan

berjangka orbit 3.420 tahun. Brown menjuluki kelompok ini "Awan Oort bagian dalam", karena

mungkin terbentuk melalui proses yang mirip, meski jauh lebih dekat ke matahari. Kemungkinan

besar Sedna adalah sebuah planet kerdil, meski bentuk kebulatannya masih harus ditentukan

dengan pasti.

Batasan-batasan

Banyak hal dari Tata Surya kita yang masih belum diketahui. Medan gravitasi matahari

diperkirakan mendominasi gaya gravitasi bintang-bintang sekeliling sejauh dua tahun cahaya

(125.000 SA). Perkiraan bawah radius Awan Oort, di sisi lain, tidak lebih besar dari 50.000

SA. Sekalipun Sedna telah ditemukan, daerah antara Sabuk Kuiper dan Awan Oort, sebuah daerah

yang memiliki radius puluhan ribu SA, bisa dikatakan belum dipetakan. Selain itu, juga ada

studi yang sedang berjalan, yang mempelajari daerah antara Merkurius dan matahari.

Objek-objek baru mungkin masih akan ditemukan di daerah yang belum dipetakan.

Konteks galaksi

Tata Surya terletak di galaksi Bima Sakti, sebuah galaksi spiral yang berdiameter sekitar

100.000 tahun cahaya dan memiliki sekitar 200 milyar bintang. Matahari berlokasi di salah

satu lengan spiral galaksi yang disebut Lengan Orion. Letak Matahari berjarak antara 25.000

dan 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi, dengan kecepatan orbit mengelilingi pusat

galaksi sekitar 2.200 kilometer per detik. Setiap revolusinya berjangka 225-250 juta tahun.

Waktu revolusi ini dikenal sebagai tahun galaksi Tata Surya. Apex matahari, arah jalur

matahari di ruang semesta, dekat letaknya dengan konstelasi Herkules terarah pada posisi

akhir bintang Vega.

Lokasi Tata Surya di dalam galaksi berperan penting dalam evolusi kehidupan di Bumi. Bentuk

orbit bumi adalah mirip lingkaran dengan kecepatan hampir sama dengan lengan spiral galaksi,

karenanya bumi sangat jarang menerobos jalur lengan. Lengan spiral galaksi memiliki

konsentrasi supernova tinggi yang berpotensi bahaya sangat besar terhadap kehidupan di Bumi.

Situasi ini memberi Bumi jangka stabilitas yang panjang yang memungkinkan evolusi kehidupan.

Tata Surya juga terletak jauh dari daerah padat bintang di pusat galaksi. Di daerah pusat,

tarikan gravitasi bintang-bintang yang berdekatan bisa menggoyang benda-benda di Awan Oort

dan menembakan komet-komet ke bagian dalam Tata Surya. Ini bisa menghasilkan potensi

tabrakan yang merusak kehidupan di Bumi. Intensitas radiasi dari pusat galaksi juga

mempengaruhi perkembangan bentuk hidup tingkat tinggi. Walaupun demikian, para ilmuwan

berhipotesa bahwa pada lokasi Tata Surya sekarang ini supernova telah mempengaruhi kehidupan

di Bumi pada 35.000 tahun terakhir dengan melemparkan pecahan-pecahan inti bintang ke arah

matahari dalam bentuk debu radiasi atau bahan yang lebih besar lainnya, seperti berbagai

benda mirip komet

Daerah lingkungan sekitar

Lingkungan galaksi terdekat dari Tata Surya adalah sesuatu yang dinamai Awan Antarbintang

Lokal (Local Interstellar Cloud, atau Local Fluff), yaitu wilayah berawan tebal yang dikenal

dengan nama Gelembung Lokal (Local Bubble), yang terletak di tengah-tengah wilayah yang

jarang. Gelembung Lokal ini berbentuk rongga mirip jam pasir yang terdapat pada medium

antarbintang, dan berukuran sekitar 300 tahun cahaya. Gelembung ini penuh ditebari plasma

bersuhu tinggi yang mungkin berasal dari beberapa supernova yang belum lama terjadi.

Di dalam jarak sepuluh tahun cahaya (95 triliun km) dari matahari, jumlah bintang relatif

sedikit. Bintang yang terdekat adalah sistem kembar tiga Alpha Centauri, yang berjarak 4,4

tahun cahaya. Alpha Centauri A dan B merupakan bintang ganda mirip dengan matahari,

sedangkan Centauri C adalah kerdil merah (disebut juga Proxima Centauri) yang mengedari

kembaran ganda pertama pada jarak 0,2 tahun cahaya. Bintang-bintang terdekat berikutnya

adalah sebuah kerdil merah yang dinamai Bintang Barnard (5,9 tahun cahaya), Wolf 359 (7,8

tahun cahaya) dan Lalande 21185 (8,3 tahun cahaya). Bintang terbesar dalam jarak sepuluh

tahun cahaya adalah Sirius, sebuah bintang cemerlang dikategori 'urutan utama' kira-kira

bermassa dua kali massa matahari, dan dikelilingi oleh sebuah kerdil putih bernama Sirius B.

Keduanya berjarak 8,6 tahun cahaya. Sisa sistem selebihnya yang terletak di dalam jarak 10

tahun cahaya adalah sistem bintang ganda kerdil merah Luyten 726-8 (8,7 tahun cahaya) dan

sebuah kerdial merah bernama Ross 154 (9,7 tahun cahaya). Bintang tunggal terdekat yang

mirip matahari adalah Tau Ceti, yang terletak 11,9 tahun cahaya. Bintang ini kira-kira

berukuran 80% berat matahari, tetapi kecemerlangannya (luminositas) hanya 60%. Planet luar

Tata Surya terdekat dari matahari, yang diketahui sejauh ini adalah di bintang Epsilon

Eridani, sebuah bintang yang sedikit lebih pudar dan lebih merah dibandingkan mathari.

Letaknya sekitar 10,5 tahun cahaya. Planet bintang ini yang sudah dipastikan, bernama

Epsilon Eridani b, kurang lebih berukuran 1,5 kali massa Yupiter dan mengelilingi induk

bintangnya dengan jarak 6,9 tahun cahaya.


sumber: wikipedia.org

No comments:

Post a Comment